Tuesday, November 22, 2011

Biru

aku biru
kamu?
juga biru
tapi bukan karenaku


-S

Lesson (I Haven't) Learned

I forgot the day when I decided that I really into this guy. It's like I desperately want him. Until one day, I found out that a friend of mine is into him too. I was like, "oh my God, really? Trap in this kind of situation, AGAIN?!" Yeah, it's not the first time He put me in this situation. Pity, no? I wonder if I haven't learn from the previous lessons; I haven't really know how it works to letting go someone, I haven't really know how to treat people well, I'm childish enough to share things. Stupid me, right?

And another day I found out that this guy is into a TOTAL STRANGER. And he's about to hook up with this girl, or he's already. I'm a mess and I'm screwed. But at least he's not into friends of mine, just like what happened in the past. Yes, I'm very unlucky in this. It's strange when I found the news' not really ruin my day. I always have that proper smile on my face, I always have that sarcasm jokes to tell, I even listen to Adele and nothing happen. The broken heart thought doesn't really popped-up in my mind.

It's kind of weird.

Funny how today you want someone badly and the other day you don't want him/her anymore. Funny when you realize he/she's the only reason you do something then he/she's not a particular. Funny how I always lost this game but I always want to play it on and on and on and on ..

JSYK last Sunday afternoon in my nap, I had a dream. In that dream I was with someone whose the face's blur. I try to fit his face in that body, but I found it was really hard. Then randomly faces of people I know fit in that body and there isn't his face. Is that a sign? Well if it is, we're not meant to be. If it isn't, I promise I'll learn harder this time. So when we ever meet again one day, I'll be someone better. While we're not seeing each other now, I wish you a good luck and may you have tons of success. :)


"I best tidy up my head, I’m the only one in loveI’m the only one in love" -Melt My Heart to Stone by Adele


-S

Friday, November 18, 2011

Monolog

Sepertinya hati harus bersabar (lagi)
Entah berapa lama lagi
Menunggu, kawan, bukan kegiatan yang menyenangkan
Sedang berusaha juga bukan perkara mudah saat ini

Siapa suruh jatuh hati?

Masih mau menunggu?
Sampai kapan?
Sudah mendung, gerimis turun sebentar lagi
Lalu menyusul hujan deras dan badai
Lalu mau apa lagi?

Ingin mengadu
Kepada siapa pun, tidak tahu
Tapi aku tidak sedikitpun ragu
Bahwa hati ini untuk kamu

Masih termangu
Melamunkan hati yang terbawa kamu
Sayangnya kamu tidak tahu
Atau tidak mau tahu?

Aku biru
Kamu?




-S

Thursday, November 17, 2011

Batas

Saya sebal deh, kalau ada orang yang lagi kerja bareng saya dan ngeluh "duh, kerjaan gue banyak banget nih. Harus ini-itu, di sini-di situ, bla bla bla.." Bukannya saya nggak mau dengerin keluh kesah orang lain, ya... Tapi sunnguh deh, saya benar-benar nggak ngerti apa keperluan mereka menceritakan itu? Lagi pula, tujuannya apa sih? Biar saya simpati dan ambil alih kerjaan mereka? Maaf ya, saya nggak segoblok itu.

Jadi begini lho menurut saya, saat kita mengambil suatu pekerjaan berarti kita sudah commit untuk mengerjakan pekerjaan itu dengan sebaik mungkin. Perkara di tengah jalan kita kepincut pekerjaan lain yang menggiurkan dan akhirnya mengambil juga pekerjaan itu, ya tinggal jago-jago bagi waktu. Pokoknya kata-kata "gue capek. Kerjaan gue banyak banget dan gue nggak punya waktu." sebaiknya jangan sampai keluar di depan saya karena saya malah akan sebal sama kalian. Serius.
Jangan lupa ya, saat kita ambil sebuah pekerjaan kita akan dimintai pertanggungjawaban penuh atas pekerjaan itu. Jadi ya jangan skip saja, kalau tanggung jawab yang kita emban itu nggak hanya setengah tapi bulat penuh. Tanggung jawab 100%.

Menurut saya semua kegiatan yang kita kerjakan dalam satu waktu adalah ujian kenaikan level. Level apa? Level kapasitas kita untuk menjadi seseorang yang multitasking, untuk jadi orang yang nggak gampang ngeluh, untuk jadi orang yang bangun lebih pagi dan tidur lebih larut, untuk jadi orang yang lebih dari orang-orang di sekitarnya. Ya. Itu salah satu alasan saya mengurangi curhat kegiatan ke orang-orang di sekeliling saya karena sesungguhnya saya sedang ujian untuk naik ke level kapasitas yang lebih tinggi. Yang lebih dari orang-orang di sekeliling saya. Nanti saat semua pekerjaan selesai, insya Allah, saya memiliki kapasitas baru yang belum tentu dimiliki orang lain. Di fase itu saya yakin posisi saya lebih tinggi dari orang-orang yang terlalu gampang mengeluh. Jumawa kedengarannya, tapi begitulah saya memotivasi diri.

I have to push my own limit in any way possible. Yes. Push your own limit. Mumpung yang punya hak untuk mendefinisikan diri kita adalah kita sendiri Yang seperti itu harusnya dimanfaatkan. Lampaui semua batasan-batasan yang sudah kalian capai. Buat rekor baru batas kalian. Jangan manja karena kita bukan lagi maba. Jangan cengeng karena masing-masing kita sudah punya KTP.

Sekarang saya masih kuliah. Harus pintar-pintar bagi waktu antara ngerjain tugas-tugas akademis, non-akademis, dan bagi waktu sama kegiatan di luar kampus. Yang repot kalau harus ngerjain tugas kelompok. Sial yang nggak ada duanya adalah ketika saya dapat teman sekelompok yang senang pamer kegiatan. Tambah lagi ujian kenaikan level saya =) Buat pembaca sekalian (kalau ada yang baca), ngumbar-ngumbar kesibukan itu nggak berguna dan ngelakuin hal itu sama saja kita memperlihatkan bahwa kita nggak profesional. Kita dengan sok penting memamerkan kelemahan sendiri yaitu, nggak bisa membagi waktu untuk semua tanggung jawab yang kita ambil. Mau didefinisikan sebagai orang yang nggak pro? Saya sih OGAH. Jadi untuk para pembaca yang pernah, sedang, atau akan bekerja sama dengan saya, tolong banget mulutnya dijaga. Merci pour votre attention. :)


-S

Monday, November 14, 2011

Station on Station



FOR ALL UI FRESHMEN AND SOPHOMORES:

Interested in broadcasting? Want to experience working in a radio but you're too attached to your academic schedule? Don't worry because our so-called world class university have this one big student club named 107.9 RTC UI. If you have any desire to be RTC's insider, we're happy to have you at UI train station's security post area on Friday (18.11.11) at 8 am - 4 pm because we'll give some infos how to be one. ;)


-S

There's a Price to Pay


When you feel so tired and think that you're dictated by your schedule, remember that one day in the future you'll owe those exhausting days for making you live your dream.


-S

Thursday, November 10, 2011

Mereka yang Terjaga Saat Kau Lelap

Semalam saya menginap di FIB untuk membantu dekorasi FestiFrance 2011. Ini pertama kalinya saya menginap di FIB. Kasihan ya, padahal sudah tiga tahun lebih tiga bulan saya kuliah di sana. Excited sih nggak, saya cuma merasa cupu saja. Paling malam saya di kampus hanya sampai jam 12 malam. Itu pun di FT karena sedang mengurus keperluan RTC. :p

Sebetulnya dekorasi untuk FestiFrance tahun ini saya bilang sebagai proyek nekat. Bayangkan saja H-1 masih harus mengerjakan 40% properti yang dibutuhkan. Nah. Kebayang lah ya, bagaimana kerja rodinya. :s Semalam yang nginap di kampus ada empat belas orang; laki-lakinya hanya 3 (satu dari Unit Produksi Seni dan Budaya FIB UI). Prihatin? Nggak usah. Alhamdulillahnya sebagian besar perempuan di Prodi Prancis adalah perempuan-perempuan jenggo. :) Jadi semalam kami sama-sama nukang; menggergaji, manjat, ngecat, dll. Seru sekali. Merasa yang kami lakukan biasa-biasa saja? Memang, karena sebenarnya pekerjaan tidak harus di-genderisasi. Lakukan saja yang terbaik untuk setiap pekerjaan yang kamu lakukan. :) Saya salut sama perempuan-perempuan Divisi Dekorasi yang rela nukang dan menginap. Di saat teman-teman lain (yang sudah melakukan tugasnya masing-masing) sedang tidur lelap di rumah, mereka begadang menahan kantuk dan lelah untuk merealisasikan konsep mereka. dan Alhamdulillah konsep yang mereka miliki berhasil direalisasikan. :)



Gambar ini diambil dengan menggunkan aplikasi capture it di BlackBerry dan memang sengaja saya post di sini sebagai renungan. Nggak sih, sebagai pengingat saja. :)


Yuk kita refleksi sedikit dari pengalaman di atas. Ada kalanya sebagai manusia kita merasa sudah bekerja ekstra keras untuk merealisasikan mimpi-mimpi kita. Lalu dengan dalil kelelahan setelah (yang menurut kita) usaha maksimal, kita leha-leha. Terlena dengan waktu luang yang ditawarkan pada fase leha-leha, kadang membuat lupa tujuan dan mimpi-mimpi kita. Hal yang jarang kita sadari adalah bahwa ada orang lain yang sedang meneguhkan niatnya, melebihkan waktu, dan usaha untuk meraih cita-citanya. Tepat disaat kita terlena oleh jeda yang kita ambil.


Dan orang-orang yang teguh niatnya, lebih waktu, serta usahanya akan berhasil mewujudkan imajinasi-imajinasi mereka.


Oh iya, selamat hari pahlawan. Semoga kamu bisa menjadi pahlawan dalam kisah suksesmu sendiri. :)




-S

Sunday, November 06, 2011

Vous me manquerez :')

Tetiba saya ingin post foto-foto orang yang seharian ada di hidup saya. Foto-foto ini entah diambil pakai kamera siapa saja, yang jelas saya cuma ngedit. :)


Rendy, Jestar, Saya, Dessy, Nedi, Ayas, Bundo, aje, Memey, Barok, Kisun, Ara,
Odi, Fathur, Galuh, Bena, Anky, Marsha (kiri-kanan)| IKABSIS 2008
@ Anyer


Afid, Nissa, Saya, Yuke, Caca | HRD Managerial 2011 RTC
@ RTC's 13th Livecoustic - Teko FISIP UI


 Ka Sasya, Nizar, Saya, Odi | Backstage "Musika Tunggal Ika" 2011
@ Lapangan Parkir FPsiko UI


 Saya & Sarput | Rapat FestiFrance 2011
@ Ruang Pertemuan Crystal of Knowledge


 Yohanna, Saya, Rosita, Wina
@ FIB UI's entrance gate


Adek & Yohanna
@ Pizza Hut MargoCity

Terima kasih sudah mewarnai hari-hari saya selama empat tahun di kampus UI Depok. Baik di FIB maupun di RTC. Nggak terasa tiba-tiba waktu saya di kampus UI sudah tinggal sebentar lagi. Nanti kalau kita semua sudah lebih sukses dari sekarang, pasti bakal sedih dan kangen lihat foto-foto ini :') Semoga kita masih ada umur dan kesempatan untuk bersua dalam versi sukses. Amin.
Je vous aime. T R O P.


-S

Diskusi Jumat Mendung

Jumat lalu Depok adem pake banget. Mataharinya nggak sembilan, kayak biasanya. Alhamdulillah. :)


Setelah menghadiri dua rapat, saya dan beberapa teman (Ara, Aje, Bundo, Sarput, Jupe, Marsha) ngobrol ngalor-ngidul tentang pasangan hidup. Ah kan, memang khas topik usia awal dua puluhan. Haha.

Rapat terakhir di Klaster. Hanya sekitar satu jam dan lebih tepat dibilang sharing, lalu saya dan beberapa orang teman yang masih tinggal terlibat dalam obrolan seru. Obrolan ngalor-ngidul yang sudah dibuka oleh macam-macam topik akhirnya belok ke masalah hati. Kemarin sempat disinggung mitos "perempuan baik untuk laki-laki baik". Saya pribadi masih percaya pada mitos itu. Ara dan Sarput juga percaya mitos tersebut, FYI Ara satu-satunya laki-laki yang ikut quality time dadakan. Jadi menurut Ara, perempuan itu memang seharusnya mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari si perempuan itu sendiri. Kenapa? Karena nantinya si laki-laki akan jadi imam bagi si perempuan. Nah, berat ya kalau sudah bahas imam-imaman segala~

Saya sendiri suka kepo-in laki-laki yang sedang saya suka dan terkadang sampai menemukan fakta yang membuat laki-laki itu memiliki lebih banyak kekuasaan atas perasaan saya. Kalau kejadiannya seperti itu, saya suka berpikir apa saya pantas untuk laki-laki yang (misalnya hasil kepo-an menunjukkan) sangat sabar. Karena saya masih punya kepercayaan itu, saya nggak mandeg untuk membenahi diri. Semoga saja ada hasilnya. Amin.

Lalu Aje nyeletuk, katanya "Gila man, gue belom pernah suka sama orang sampe mikirin gue pantes atau nggak buat dia. Kalo kemungkinan gue bakal ngelakuin apa aja buat itu cowok sih ada, tapi gue nggak pernah mikir apa gue layak buat cowok itu atau nggak. Itu berarti lo udah ngerasain yang namanya emotional love, man!" Emang iya itu namanya emotional love? Wah, saya baru tahu. Selama ini karena saya percaya mitos "perempuan baik untuk laki-laki baik" makanya saya selalu terjebak dalam perasaan pantas atau tidak pantas. Saat perjalanan pulang, diskusi lanjut di mobil Sarput. Katanya, "bukan masalah pantes atau nggak pantes, To. Dia-nya mau/nggak sama kita?" Nah, iya benar juga. Hahaha.


Mitos kedua adalah "perempuan itu menunggu, biar laki-laki yang bikin move duluan". Sebenarnya saya nggak 100% setuju tapi toh empirisnya 70% saya praktekkan. Hahaha. Konon katanya kalau laki-laki jatuh cinta sama seorang perempuan, dia akan melakukan apa pun supaya mendapatkan hati perempuan itu. Ah sayang sekali kamu tidak seperti itu ke saya. Kalau tidak salah, hampir semua perempuan yang ikut di sesi galau massal itu mengamini tapi tentu saja dengan takaran tunggu masing-masing. Lalu ngomong-ngomong harus menunggu, ujung-ujungnya pasti bawa-bawa sabar. Nah, ini yang sulit. Banget. Sabar itu tidak harus melulu berdiam diri, motionless. Tapi seperti yang tadi sudah saya bilang, saya masih percaya mitos "laki-laki yang bikin move duluan". Labil.


Barusan saya bbm-an dengan seorang teman yang hari Sabtu (12 november 2011) nanti akan menikah. Saya bilang kalau sedang suka sama seseorang, lalu dia tanya "sampai kapan mau mendam itu perasaan?" Lalu saya jawab, "sampai dikasih jalan sama Tuhan, entah itu buat sama dia atau sama yang lain hahaha." Kelihatannya saja saya bisa tertawa. Ini di dalam hati ketar-ketir, sebenarnya. Lalu dia balas, "semoga jodoh ya sama laki-laki itu. Wahai teman, semoga kamu bahagia sama calon suamimu itu dan saya bahagia (semoga) sama dia. Amin. :)


Sekarang saya sedang mendengarkan album Kahitna yang Lebih dari Sekedar Cantik. Semua lagunya saya suka. Liriknya sangat tepat sasaran. Pati tahu 'kan maksud saya? :) Kalau ada umur, jodoh, dan rizki, saya ingin sekali lagu Mentariku dimainkan saat resepsi pernikahan saya. Nanti. Insya Allah. Masih beberapa tahun lagi. Belum juga dapat S.Hum dan beli Balenciaga sendiri :"""
"Tuhan izinkan aku; dekatkan diri dan hatinya padaku." -Lebih dari Sekedar Cantik, Kahitna




-S 

LE 1ER FESTIVAL DE FRANCE 2011



MAHASISWA PROGRAM STUDI PRANCIS
FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA - UNIVERSITAS INDONESIA
MEMPERSEMBAHKAN:


LE 1ER FESTIVAL DE FRANCE
«dans quelle couleur voulez-vouz vivre?»

10 -11 NOVEMBER 2011

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK

Friday, November 04, 2011

Kamis (agak) Mikir

Akhir minggu lagi; rasanya kalau masih harus mikir tugas dan kerjaan nggak layak disebut akhir pekan. Baru sampai rumah. Perjalanan Depok - Bekasi makan waktu sampai 3 jam. Sungguh terlalu. Biasanya paling lama 1.5 jam. Badan sakit semua. Kurang tidur. Tugas numpuk macam dosa. Ditambah galau.

Dua hari ini (Kamis dan Jumat) banyak banget hal-hal yang bikin saya melek kehidupan. Cerita nih ya..

Hari Kamis (3 Nov 2011) saya melihat 2 bapak yang dulu bekerja di perpustakaan FIB, sekarang mereka dipindahkan di perpustakaan pusat, Crystal of Knowledge (kalau nggak salah namanya itu). Iya, perpustakaan yang katanya tercanggih se-Asia Tenggara itu. Entah deh se-Asia atau se-Asia Tenggara. Walaupun sudah 3 tahun kuliah di FIB dan lumayan sering ke perpustakaan, saya nggak tahu nama-nama beliau. Terlalu ya?

Jadi saya duduk di peron 2 (peron ke Jakarta) dan mereka duduk di seberang, peron 1 (peron ke Depok). Dengar-dengar si bapak perpus #1 anaknya meninggal tertabrak kereta saat liburan semester 3 (tahun 2009 kira-kira). Lalu, bapak perpus #2 air mukanya sendu sekali. Nggak tepat sih, kalau saya bilang sendu. Gimana ya? Wajah tuanya menyiratkan rasa lelah, nrimo, dan tenang. Lama saya memandangi mereka dari seberang peron, nggak tahu deh kalau mereka sadar sedang saya amati :p Lalu tiba-tiba muncul di benak saya sebuah pertanyaan. "Mereka bekerja di tempat sebesar Crystal of Knowledge tapi apa rupiah yang masuk ke rekening mereka setiap bulannya besar juga?

Semoga saja itu rupiah yang masuk rekening berkah dan cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Amin. Nggak tega rasanya membayangkan mereka yang setiap hari harus naik kereta; kalau pagi berdesakkan dengan komuter yang juga menuju Jakarta via kereta dan sorenya berdesakkan dengan komuter yang kembali ke Bogor. Kereta ekonomi tujuan Bogor lalu datang. Kereta belum begitu penuh. Sosok dua bapak penjaga perpus menghilang bersama kereta ekonomi tujuan Bogor.

Sepuluh menit kemudian komuter line tujuan Jakarta Kota yang saya tumpangi datang. Sore itu, alhamdulillah, masih dapat duduk; kereta cukup ramai. Di seberang saya, duduk lesehan di depan pintu kereta, dua bapak yang sepertinya adalah kuli cabutan. Pakaiannya lusuh dan kotor, boot karetnya dekil, yang satu memakai sendal jepit, dekil juga kakinya. Si bapak ber-boot sepertinya sudah berumur 60 tahuanan. Entah benar usianya segitu atau mudanya habis diserap derita. Lalu kembali muncul di pikiran saya. "Memang berapa bayaran seorang kuli panggul, sih? Mewah sekali rasanya kalau mereka naik komuter seharga Rp 6.000,- Memang masih ada uang untuk makan dia dan keluarganya? Masih ada ongkos dari Stasiun Tebet sampai rumah?"

Tetiba ingat beberapa kelakuan teman di kampus yang dengan gampangnya mengeluarkan rupiah. Kelakuan sendiri yang masih suka minta uang sama orang tua. Pikir-pikir lagi deh kalau mau minta uang sama Bapak atau Ibu. Semoga itu nggak sekedar tulisan di blog aja ..


-S

Wednesday, November 02, 2011

Semoga (Hati) Kita Berkolokasi

Entah kenapa akhir-akhir ini saya terlalu sensitif sampai-sampai hal-hal linguistis pun dibridgingkan ke masalah hati. Kali ini korbannya adalah kolokasi. Pernah dengar? Anak sastra pasti sudah nggak asing lagi dengan istilah ini. Menurut kateglo, artinya seperti ini:
ko·lo·ka·si n Ling asosiasi tetap antara kata dan kata lain dl lingkungan yg sama; ber·ko·lo·ka·si v mempunyai tautan padu
Misalnya begini, kita akan membuat kalimat yang pesannya adalah "pahlawan meninggal". Kalimat "pahlawan meninggal" tidak salah tapi dari segi rasa, kata "meninggal" kurang cocok jika disandingkan dengan "pahlawan". Untuk menggantikan kata "meninggal" kita memiliki daftar kata lain yang masih dalam lingkungan yang sama yaitu, "wafat", "berpulang" "mangkat", "gugur", "tewas", "binasa", dll. Lazimnya kata "pahlawan" disandingkan dengan kata "gugur". Mengapa gugur? Karena gugur berarti,
gu·gur 3 mati dl pertempuran: dua orang prajurit -- dl pertempuran itu;
 lebih cocok, 'kan?  Mungkin karena "gugur" bisa menguatkan dan memberi nilai rasa tambahan pada kata "pahlawan".

Hah. Mari belokkan ke masalah hati. Saya harap, (hati) saya berkolokasi dengan kamu.

Begini. Ibaratkan hati itu sebuah kata; maknanya tidak cukup dijelaskan dalam ratusan lembar kertas atau satu seri ensiklopedi. Hati punya daftar kolokasi. Kalau 'hati kamu' dikolokasinkan dengan sederet 'hati lain', kelihatannya sih bakal manis. Tapi hati saya seperti teriris? :'(

Ganti ya. Hati saya yang sekarang jadi subyek, kasihan kalau terus-terusan diobyekkan.

'Hati saya' dikolokasikan dengan 'hati lain'. Mungkin si 'hati lain' ini jika berdiri sendiri, dari segi rasa, maknanya lebih rendah atau bisa jadi lebih tinggi dari pada 'hati kamu' tapi saya prefer 'hati kamu'. Kenapa? Nggak tahu. Saya maunya kamu. Eh, 'hati kamu'. Ya, kamunya juga sih :""" Sama kayak "pahlawan" yang berkolokasi dengan "gugur". Oh. Mungkin karena makna 'hati kamu' itu bisa memberi nilai rasa tambahan ya, untuk 'hati saya'? Bisa jadi, sih.

Saya nggak peduli kalau kita nggak berkolokasi sekarang (baca: akhir 2011 - awal 2012, sialan sih pake deadline). Saya maunya kamu sadar kalau 'hati saya' adalah kolokasi yang tepat untuk 'hati kamu'. Saya maunya kebertautan kita saling memperkuat makna masing-masing. Saya maunya orang-orang punya aspek kognitif 'hati kamu' begitu 'hati saya' disebut.

Saya kebanyakan mau, ya? Biar. Kan subyeknya 'hati saya'. Toh, saya tidak tahu apa yang dimaui 'hati kamu'. Saya nggak egois. Saya bisa diajak nego kok tentang maunya 'hati saya' dan 'hati kamu', Tapi kalau kamu nego untuk nggak berkolokasi sama 'hati saya', mau nggak mau saya belajar nrimo (lagi).

Tapi saya maunya kamu. Eh. 'HATI KAMU'.


-S

Tuesday, November 01, 2011

GALAU: Tren atau Fenomena?

Iseng cari arti kata galau di KBBI dalam jaringan (KBBI on line). Kurang lebih artinya:
galau a, bergalau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak karuan (pikiran); kegalauan n sifat (keadaan hal) galau


Mungkin ya, makna galau sebagai 'kacau tidak karuan (pikiran)' itu sudah turun ke hati. Saya sering sih, pakai istilah galau yang maknanya turun ke hati. :"""

Udah ah, napa jadi semantis gitu bahasannya?

Jadi begini. Waktu itu saya baru tahu nih, kalau istilah galau sudah muncul di zaman dosen saya masih kuliah. Saya lihat ucapan terima kasih di skripsi beliau, bawa-bawa istilah galau. Penasaran sih sama penggunaan dan pemaknaan istilah galau zaman beliau sama zaman saya sekarang (lah, napa semantis lagi sob? Yasudahlah) tapi berhubung saya nggak dekat sama beliau, nggak berani nanya deh :p

Yang entah kenapa muncul di benak saya adalah, "galau itu tren atau bukan?" Kayak yang kita tahu deh, tren itu kan timbul tenggelam; ada masa jayanya, terus hilang, terus muncul lagi. Atau galau adalah fenomena yang terjadi di umur-umur mahasiswa macam saya (baca: awal dua puluhan)?

Kalau kita bilang galau itu adalah tren, berarti galau adalah tren yang tidak pada umumnya. Yang namanya tren pasti bersifat sosial, melibatkan banyak individu, tidak hanya sekelompok orang saja (misalnya: mahasiswa). Tren menjangkau semua kalangan tanpa melihat batasan, tetapi pilihan seseorang untuk mengikuti tren tersebut atau tidak berada di tangan masing-masing. Kenapa saya sampai berpikiran bahwa galau adalah tren yang tidak pada umumnya? Penalaran saya begini, jika istilah galau menjadi tren sudah barang tentu istilah itu akan digunakan di setiap lapisan masyarakat. Pasti istilah terebut juga digunakan oleh siswa-siswi yang sedang puber. Iya lah, mereka sedang gas pol cari identitas; nunjukkin diri ke orang-orang di sekitarnya. Apa yangg sedang hits, pasti diikuti. Namun seingat saya, sewaktu saya duduk di SMP atau SMA saya belum mengenal istilah galau. Jangan-jangan saya yang nggak puber? Saya yang nggak nyari identitas? Saya yang nggak berusaha untuk dilihat orang? Ah bodo amat, yang penting saya sudah paham eksistensialisme Sartre. :)

Kemungkinan lain adalah, zaman saya SMP dan SMA peran teknologi dalam kehidupan sosial belum sebesar sekarang. Dulu punya handphone supaya bisa telepon dan sms. Internet pun belum ada jejaring sosial yang digandrungi macam facebook dan twitter. Istilah galau belakangan meluas gegara facebook, twitter, dan jejaring sosial sejenisnya.

Nalar yang kedua, si galau ini adalah fenomena yang terjadi di usia awal dua puluhan. Kembali pada makna 'kacau tidak karuan (pikiran)', jika disebut fenomena galau bisa mengacu pada kekhawatiran orang-orang di usia itu terhadap masa depan. Bisa sih, "pikirannya nggak karuan karena bingung habis lulus mau ngapain" atau "pikirannya nggak karuan karena bingung belum dapat pendamping wisuda". Kalau yang terakhir sih sepertinya makna galau yang turun ke hati ya. :"""

Karena hanya sebuah fenomena yang terjadi di usia awal dua puluhan, maka seharusnya galau tidak terjadi berkelanjutan (beda soal kalau si individu memang tipe melankolis). Fenomena galau pasti akan hilang seiring terjawabnya satu-demi satu kekhawatiran kita. Nah, galau yang turun ke hati nih yang belum terjawab. Atau saya nggak dengar pas ada yang manggil-manggil? :)


-S

Melancholia by Lars von Trier



Saya hanya penikmat film. Bukan orang yang ahli menilai film. Pelajaran Pengkajian Sinema Prancis yang pernah saya ambil menguap begitu saja bak peluh di bawah matahari kota Depok. Saya tidak membaca buku teori film seperti beberapa teman saya yang sangat menyukai film. Saya hanya suka menginterpretasikan karya dari sutradara (atau pun pengarang). Saya hanya memanfaatkan "the death of the author" Barthes dengan baik. :)

Ini film Lars von Trier pertama yang saya tonton. Delapan menit pertama saya nyaris lupa bernafas. Sungguh lupa. Tidak dibuat-buat. Saya bengong melihat indahnya komposisi warna di tiap gambar yang disuguhkan. Saya kagum dengan adegan slow motion di delapan menit pertama tersebut. Luar biasa indah sekali.

Melancholia bukan tipe film yang dapat dipahami dalam sekali tonton. Tentu saja yang saya maksud 'tonton' di sini adalah dilihat dan dipahami. Melancholia terdiri dari dua bagian. Bagian pertama menceritakan Justin (Drew Barrymore) yang mengidap melancholia (gangguan terhadap mood seseorang disebabkan oleh depresi) dan bagian kedua menceritakan Clair (Charlotte Gainsbourg) yang mempercayai bahwa suatu saat planet Melancholia akan menabrak bumi.


Film ini bercerita tentang ketakutan. Justin takut dengan kehidupannya setelah menikah dengan Michael (Alexander Skarsgård). Kedua orang tua Justin bercerai; ibunya memberikan speech pada saat resepsi bahwa ia tidak percaya institusi pernikahan sedangkan ayahnya berpoligini. Terpengaruh oleh kata-kata ibunya, Justin menjadi murung selama resepsi. Ditambah lagi bosnya mengenalkan Justin pada seorang pegawai baru yang dinilai kompeten untuk bekerja di perusahaanya. Dari ekspresi Justin pada gambar yang ditayangkan, saya melihat bahwa Justin merasa cemas akan nasibnya di masa depan; pernikahan dan karir.


Clair. Ibu satu anak. Istri seorang astronom, John (Kiefer Sutherland). Ia percaya bahwa planet Melancholia akan berada dalam jarak terdekatnya dengan bumi dan menghantam bumi; akhir kehidupan. Pada waktu yang telah diperkirakan John bahwa Melancholia akan berada pada jarak terdekat dengan bumi, mereka bersama-sama menyaksikan Melancholia mendekat; John berhasil meyakinkan Clair bahwa Melancholia tidak akan menabrak bumi. Sungguh sayang John melakukan kesalahan, Melancholia semakin lama semakin mendekat. John bunuh diri. Clair dan anaknya mencoba melarikan diri dari kenyataan di hadapannya. Sadar pelariannya tidak berguna, Clair kembali ke kastil; pasrah menghadapi hantaman Melancholia.


Punya rasa takut itu wajar. Apa lagi takut sama masa depan. Tapi menurut saya, masa depan itu tentatif. Segala sesuatunya masih bisa diusahakan. Kita masih bisa memproyeksikan visi kita ke realita. Dengan kerja keras, tentu saja. Untuk urusan kiamat, saya kembalikan lagi pada apa yang kalian percayai. Urusan macam itu saya tidak mau intervensi. Sila bilang saya malas debat. Saya hanya tidak mau mencampuri urusan individu dan keyakinannya. :)




-S

  Photo by Photos Hobby via Unsplash Old wounds are not worth revisiting. -S