Thursday, June 14, 2012

for I never forget that day

deary God,
I wish You could bring me back
to February 18th 2012
when I used my first black robe,
handed bouquets of flowers,
took some photos,
shared laugh, cupcakes, kisses, and hugs -
for I never forget my graduation day

-S

Monday, June 11, 2012

Anak-Cucumu Kini

Sebut saja namanya Mbah Upas. Beliau juragan tanah di kampung ini. Tanah-tanah itu adalah hasil pengabdian beliau kepada Belanda. Mbah Upas menikah dua kali. Dari pernikahan pertamanya beliau memiliki empat anak dan dari pernikahan keduanya beliau memiliki lima anak. Anak-anak itu beranak pinak banyak sekali karena pas bikin anak enak sekali.


Mbah Upas sangat terpandang di kampungnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena luas tanahnya. Beliau bukan orang yang dermawan. Beliau hanya berderma kepada si fakir yang disukainya. "Suka-suka, kan saya si Kaya," katanya.


Mbah Upas meninggal. Beliau dikebumikan di sepetak tanah pemakaman yang sudah dibelinya untuk  area pemakaman keluarga. Tanah Mbah Upas dibagi-bagi ke anak-anaknya. Satu generasi wafat dan generasi selanjutnya tidak ada yang sedisegani Mbah Upas di kampung itu. Keluarga Mbah Upas tetap dihormati dan lebih suka berderma dibandingkan mendiang pimpinan keluarga mereka.


Dua generasi berlalu. Muncul sosok pengganti Mbah Upas yang disegani dan dihormati oleh seluruh anggota keluarga besar dan menjadikan keturunan Mbah Upas merasakan kembali reputasi keluarganya di kampung itu. Si Sosok itu adalah seorang yang berpendidikan dan punya karir cukup sukses di kota; juga menjadi orang terkaya di keluarga. Sosok itu adalah cucu-mantu Mbah Upas; ia menikah dengan cucu perempuan Mbah Upas.


Habis sudah waktu cucu perempuan Mbah Upas di dunia. Si Sosok menduda. Tahun ketiga ia memutuskan kawin dengan janda. Enam anaknya tidak satu suara menanggapi bapaknya. Keluarga besar Mbah Upas tidak peduli, "sibuk urus dapur supaya tetap ngepul", katanya.


Keluarga inti Si Sosok yang semula jadi panutan keluarga besar keturunan Mbah Upas menjadi berkubu-kubu. Ada kubu nggak suka Ibu baru dan kubu bapak butuh teman turu*. Anak-anak si Sosok sempat saling bisu beberapa minggu.


Anak-anak si Sosok yang juga sudah punya anak-anak berulah. Tiga dari enam jadi simpanan, sampai labrak-labrakan tapi lebih heboh dari versi anak SMA. Yang satu percaya sama dukun-dukunan. Satu lagi kalau lagi marah pelariannya nongkrong di cafe sama anak balitanya. Cuma satu anaknya yang hidupnya adem-ayem saja; tinggal di rumah sakit jiwa sama teman-teman yang satu pikiran dengannya.


Di kampung rumah peninggalan Mbah Upas beridiri tidak ada lagi tradisi masak dodol saat hari raya. Tidak ada lagi jejeran mobil plat kota yang pulang saat hari raya. Mobil paling hanya satu-dua, nggak sampai empat-lima. Keluarga Mbah Upas sudah bubar pasar.




-S



*turu : tidur (bahasa jawa ngoko)

NOT my favorite charity

SHARING BED AND BLANKET
IS NOT MY
FAVORITE CHARITY.

-S

(untitled)

Seumur jagung baru usianya tapi sudah banyak hal dilihatnya. Kelakuan-kelakuan hasil asuhan kaum pinggiran.

Pagi harinya diisi dengan pemandangan para pekerja yang terbirit-birit, tangan-tangan pencopet yang gesit, kenek yang teriak-teriak sampai suaranya limit, para preman yang bertampang sengit. Hari-harinya  menantang terik metropolitan, menerobos hujan, dan melewati air kubangan.

Saat istirahat dilihatnya para kenek dan preman bus yang perutnya macam tas pinggang dan kerah bajunya yang terbuka memesan kopi. Ia juga melihat para preman, kenek, dan sopir yang menggoda mbak-mbak penjaga warung kelontong, warteg, dan warkop - mbak-mbak yang suka berpakaian ketat dengan motif atau gambar yang bikin para karyawati kantoran nggak habis pikir kenapa ada orang yang selera pakaiannya macam begitu, yang mutar Iwak Peyek kencang-kencang dari hand phone limaratusribuan, dan yang mukanya belang akibat dempulan sekenanya. Sekali-dua kali mereka memelototi bokong penumpang perempuan yang berbalut jeans ketat atau pun rok span. Kalau sedang iseng, di-siul-in lah itu penumpang malang.

Sore hari saat jam pulang kerja, ia ikut bermacet-macet di lampu merah. Melihat pengamen-pengamen, pengasong kemoceng-makanan-minuman, dan polisi yang seenak jidat buang ludah. Kalau sedang sial ia turut terkena ludah.

Malam harinya ia istirahat di terminal. Tak jarang dilihatnya pasangan mesum yang main hanya beralaskan koran di depan toko-toko yang sudah tutup. Kadang pasangan-pasangan itu main didekatnya sampai mani si laki-laki mengenainya. Satu malam orang gila yang berkeliaran di daerah itu mengajaknya ngobrol ngalor-ngidul tentang keluarganya di kampung; bapaknya yang tukang kawin dan ibunya yang suka main dengan teman-temannya sesama tukang ojek, kakak pertamanya yang jadi TKW dan mati diseterika majikannya, kakak keduanya yang menuruni hobi bapaknya -main perempuan- padahal kerjanya hanya satpam, dan adik bungsunya yang butuh uang sekolah dan nggak tahu apa yang dialami keluarganya. Puas si orang gila bercerita, kadang ia dirangkul, dicium, atau ditendang kuat-kuat. Di malam lain anak bau kencur yang mabuk akibat minuman oplosan muntah di atasnya.

Jijik. Sungguh jijik. Untung ia bukan manusia. Ia adalah ban bus Lantjar Djaja yang baru diganti beberapa bulan lalu. Dulu ia tinggal di tempat penyimpanan suku cadang sebuah tempat servis kendaraan yang sempit dan gelap. Senang sekali ia ketika dibawa keluar dan jadi roda kemudi bus Lantjar Djaja. Ternyata tinggal  di Ibu kota tidak lebih baik dari pada tinggal di tempat penyimpanan.

-S

so we can make it the weekdays

WE ALREADY GOT STAIRWAY TO HEAVEN
AND A HIGHWAY TO HELL
BUT WHAT WE NEED THE MOST
IS DORAEMON'S DOOR
SO WE CAN MAKE IT THE WEEKDAYS.

-S

Wednesday, June 06, 2012

Mimpi

Dika senang sekali. Akhirnya setelah bertahun-tahun absen dari acara reuni geng kuliahnya, tahun ini Dika bisa hadir.

Lima tahun sejak hijrahnya Dika ke Eropa. Tujuh tahun setelah sama-sama memakai toga. Tahun ini, Dika menyempatkan diri untuk pulang. Demi memberi jeda pada rindu yang membudakinya.

Semasa kuliah, sekali-dua kali Dika dan sahabat-sahabatnya mangkir kuliah. Pergi ke kebun raya dengan kereta ekonomi untuk mengoceh tentang mimpi.

Ada Lita, si penganut mahzab pantang pulang sebelum subuh saat weekend, dulu punya mimpi kawin dengan kaukasian kaya raya berusia setengah abad dan tinggal di Roma. Kini Lita bersuamikan seorang pengusaha furnitur dari Jember dan memiliki butik busana muslim. Jo dulu bercita-cita menjadi pengacara sukses dan menikahi Puteri Indonesia. Sekarang ia memang menjadi pengacara yang cukup sukses, tetapi cita-citanya menikah belum diamini semesta. Lintang dulu bercita-cita menjadi interpreter PBB. Sekarang ia punya dua pekerjaan; siang hari sebagai sekretaris perusahaan dan malamnya sebagai partner masokis Mr. Boss. Danu dulu ingin hijrah ke Negeri Paman Sam untuk mengejar mimpinya berlaga di Broadway. Belakangan setelah ayahnya kabur dengan selingkuhannya, ia mengubur mimpinya dan mendirikan usaha servis mobil. Danu menikahi perempuan keturunan keraton dua tahun lalu. Sejak kuliah, Dika memang berkeinginan untuk minggat dari negerinya dan menetap di Eropa. Ia ingin menikah dan hidup di sana.

Tidak semua pemimpi dapat menjinakkan dan menghidupi mimpinya. Dika senang mengetahui sahabat-sahabatnya dalam keadaan baik dan berkecukupan.

Namun masih ada satu mimpi Dika yang ia harap dapat ia jinakkan. Dika ingin mendapatkan pemilik rindunya. Anak Adam yang dicintainya setengah mati. Yang membudaki kerinduan hatinya. Sahabatnya.

Beberapa bulan sebelum Dika bertolak ke Eropa, ia pernah menyatakan perasaannya. Mengajak separuh dunianya hijrah ke Eropa untuk menikah dan tinggal di sana. "Maaf Dik, aku nggak bisa ninggalin Mama dan adik-adik. Harus ada yang jaga mereka. Aku harus tinggal dan aku nggak bisa nikah sama kamu. Aku akan menikahi perempuan." kata Danu.

-S

  Photo by Photos Hobby via Unsplash Old wounds are not worth revisiting. -S