"Maka kami adalah penjaga batas antara ada dan tidak ada. Dan ini lah tugas yang mahadahsyat beratnya dan tak ada tugas lain yang menandinginya. Kelak bila tugas kami selesai, alam raya ini akan lenyap dalam ketiadaan. Ruang dan waktu tak lagi berwujud, bahkan juga materi. Semuanya akan lenyap sehingga yang ada tinggal yang Maha Ada."
(Salam dari Para Penyangga Langit oleh Ahmad Tohari)
Il la rend fou,
Le mystère qu'elle sera sa raison à respirer
Ou pas.
Il la rend fou,
Le rêve qu'elle sera avec lui jusqu'à la fin de la journée
Ou pas
Elle est folle
Elle est folle de lui
Elle est tomber amoureuse qu'il la rend fou
Elle est folle de lui
Même s'il se détourne d'elle
Il la rend fou, lui.
Wednesday, July 10, 2013
Tidakkah bunyi-bunyi diciptakan untuk menggenapi romansa?
Debur ombak dan rintik hujan misalnya.
Manakah yang lebih kau suka?
Aku suka hampa.
Namun kadang kurindukan juga suara.
Walau aku tak akrab betul suaranya.
Manakah yang lebih kau suka?
Kau tahu apa yang sering dikisahkan pujangga tentang manusia yang terjebak dalam cinta?
Katanya hatimu akan berdegup lebih kencang dari biasanya.
Tapi aku tidak begitu, kau tahu?
Aku hanya berharap kau dapat menemukanku
karena sepertinya kau selalu sibuk mencari-cari sesuatu.
Semoga kau tidak mencari sosok perempuan selain aku.
Kau tahu keinginanku begitu besar?
Kali ini aku ingin meyakinkan hatiku untuk membiarkanmu masuk
dan menetap di situ.
Sampai habis waktu.
Mereka bilang cinta itu kepasrahan.
Tapi cinta juga pengorbanan, pengharapan.
Dan jangan lupa,
cinta itu pengecualian.
Jadi 'kan ku kerahkan segala daya dan upayaku
untuk menggaaimu.
Aku tak mau dengar bila semesta tak memihakku.
Tolong.
Kali ini aku tidak ingin larut dalam doa dan kepasrahan
hingga lupa kau adalah tujuan.
Aku akan mengusahakanmu karena kau bukan persinggahan.
“Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan tak akan pernah kumiliki keutuhannya. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan. Seseorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena
kalau sampai ia berbalik, niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.
Pada suatu hari nanti, Jasadku tak akan ada lagi, Tapi dalam bait-bait sajak ini, Kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti, Suaraku tak terdengar lagi, Tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati, Pada suatu hari nanti, Impianku pun tak dikenal lagi, Namun di sela-sela huruf sajak ini, Kau tak akan letih-letihnya kucari.
Yang selalu kubayangkan raganya menari dalam sepi
Yang senyumnya menyelinap dalam gelap
Yang keindahannya semayam di antara malam
Apa masih ada rasa yang tak punya nama?
Yang alpa wujudnya
Yang tidak kasatmata
Hingga hanya asa yang saksi ia ada
-S
Thursday, March 14, 2013
Sungguh telah kau curi waktuku
Hingga mentari tak cukup jeli memetakanmu
Bulan tak cukup setia mendengarkan dongengku,
tentang kamu dan aku
Adakah sedetik kau memikirkanku?
Berharap aku berdiri di ujung jalan itu
Berpapasan sehingga lengan kita bersentuhan
Mencerai tatap dalam sipu yang tertahan
Aku mengagumimu dari jarak yang hanya Tuhan yang tahu
Lewat lengan yang tak sengaja bersentuhan
Lewat tatap mata yang diisaratkan bertemu
Lewat debar jantung dan pengharapan
Friday, March 01, 2013
Waktu
Ia berlalu
Ia jelmakan kita jadi jemu
Kadang ia sangat terburu-buru
Jarak
Inginku kau sudi beranjak
Hingga kita hanya sejejak
Inginku kau bisiki aku sajak
Rindu
Ialah nestapa hati yang bisu
Isyarat hati yang malu-malu
Sorak sorai hati yang menggebu-gebu
Sepi
Didalamnya aku bermimpi
Padanya aku 'kan kembali
Kepadanya aku berhutang budi
-S
Tuesday, February 26, 2013
Pungguk kembali merindukan Bulan
perkara Bulan sudi menahu