Wednesday, August 29, 2012

Skip 2.0

Hi fellows blogger, I'm stopping by to share a snap before starting my works today. So, it's like 8.30 a.m. and I've done 3 zonks.

So, I woke up at 5.30 a.m. and did the prayer. Took a bath at 6.30 a.m. and off to work with NO rush, I believe, at 7 a.m. Turns out I forgot my watch, which is zonk #1. It maybe not a big thing but you know how it feels when you forgot to bring your must-bring-item. So, the traffic is not as heavy as I predict, but still I slept on the bus :-p I got in the area at 8 a.m. which is TOO EARLY and I missed my stop. The moment I open my eyes, the bus just get off from my stop. So I get off at the next stop which is 500m from my office. Not a big problem but still, that's zonk #2. Like any other days, I have to queue to get the elevator. Coffee is the first thing I made when I arrived. Here is my zonk #3, I brew the coffee with cold water. I think I really should go home.

Well, I have to signing off now, fellows blogger. I'll update with my Eid El Fitr' holiday in Billiton. Ciao!

-S

Sunday, July 29, 2012

Balada Buruh Kapitalis

Sejak satu posting lalu, tulisan di blog ini dibuat oleh seorang buruh kapitalis, yang dulu pernah menjadi mahasiswi di salah satu universitas paling top negeri ini. Sekarang sudah tidak ada lagi mahasiswi. Si mahasiswi kini telah menggadai namanya dengan 6 digit kode kepada sebuah perusahaan swasta milik asing.

Bukan. Bukan si buruh tidak menikmati bekerja di perusahaan itu. Si buruh senang bisa bersosialisasi dengan lingkungan baru, sebelas duabelas dengan hobinya semasa kuliah dulu. Bukan pula si buruh tidak bersyukur. Si buruh bersyukur sekali setelah mengalami beberapa kali wawancara dan psikotes untuk mendapat posisi buruh kapitalis yang ternyata sulit.

Si buruh takut. Takut otaknya mati. Tidak bisa berpikir kritis lagi. Lebih parah, sama sekali tidak bisa berpikir lagi. Si buruh takut suaranya dibeli. Takut ia tidak bisa bersuara lagi lantaran pikiran dan polah tingkahnya dibatasi aturan korporasi. Si buruh takut dirinya tidak peka lagi. Takut akan hilangnya nilai-nilai sosial yang sudah terpatri.

Si buruh sekarang berjuang sendiri supaya otaknya tidak mati. Tidak menjadi otak-otak malas yang selalu ambil jalan pintas. Si buruh sedang dalam pelatihan mandiri supaya otaknya sakau pengetahuan.


Si buruh ingin kuliah lagi. Sudah direstui dan ditawari dimodali asal kuliah di alma mater yang sama. Sedang si buruh inginnya melanjutkan magister ke luar negeri dengan beasiswa. Memang banyak mau. Biar buruh, sini kan juga manusia hahahaha Entah kapan si buruh mencukupkan kerjanya dan mengejar inginnya. Semoga disegerakan.


Di dalam hati si buruh ingin bekerja untuk LSM yang mengangkat isu perempuan. Si buruh menganggap perempuan-perempuan di negerinya harus diberi pengetahuan lebih tentang kesetaraan, hak, dan lain sebagainya. Si buruh ingin melanjutkan studinya di jurusan Women's, Gender, and Sexuality Studies. Ada beasiswa untuk itu, tetapi si buruh tidak yakin bisa dapat satu. Jauh dalam hati, si buruh ingin bekerja di UN Women. Sungguh, si buruh pun rela ditugaskan di Ghana, Kenya, Zambia, dan ataupun di negrara-negara yang  hak-hak perempuannya sungguh tidak ada.

Semoga si buruh bisa menghidupi pekerjaan impiannya yang mulia. Amin.




-S

Farewell Dinner 2K12

Telepon genggam Bapak berdering. Dilihatnya satu pesan masuk. Begini bunyi pesannya:
"Selamat malam, Pak! Apa kabar? Semoga Bapak dan keluarga senantiasa dalam keadaan baik. Begini, saya akan mengadakan farewell dinner mengingat Senin besok saya akan menghuni rumah baru hehehe Acaranya akan diadakan di bistro X, mall Y jam 7 malam sampai selesai. Saya sangat mengharapkan kedatangan Bapak. Salam."
Bapak yang masih memangku tafsir qur'an di tangannya hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Bapak tahu bahwa dirinya tidak akan menghadiri acara itu. Beliau meletakkan kembali telepon genggamnya dan kembali meleburkan diri dalam buku tafsirnya.

Berita tentang si pengirim pesan, sebut saja Pak Bu'at, yang akan pindah ke rumah baru lalu lalang di media, cetak maupun elektronik. Maklum Pak Bu'at adalah pejabat tinggi. Dulu pernah menjadi atasan Bapak. Lawan adu argumen Bapak di rapat direksi ketika sama-sama masih menjabat.

 Hari Senin Bapak melihat berita di televisi tentang Pak Bu'at. Beliau sudah pindah ke rumah barunya, Rutan Tipikor LP Cipinang. Ya. Farewell dinner yang tidak dihadiri Bapak adalah acara perpisahan Pak Bu'at dengan rekan-rekannya sebelum dijebloskan ke LP lantaran Pengadilan Tipikor menolak eksepsi Pak Bu'at dalam putusan yang dibuat atas tuduhan memperkaya diri sendiri dan orang lain.

Begitulah. Nampaknya di tahun-tahun penuh pembongkaran kasus korupsi ini lazim sekali farewell dinner di resotran mewah bagi para tersangka tipikor. Belum lagi kamar president suite di Hotel Prodeo yang dengan mudah bisa didapatkan asal kuat sogok sipir sana-sogok sipir sini.

-S

Saturday, July 28, 2012

Manusia Postmodern

"Seorang manusia postmodern yang berdaulat sejati tidak diperbudak ilmu pengetahuan. Ia menguasai pengetahuan. Bukan dikuasai pengetahuan."

Bilangan Fu, Ayu Utami

Thursday, June 14, 2012

for I never forget that day

deary God,
I wish You could bring me back
to February 18th 2012
when I used my first black robe,
handed bouquets of flowers,
took some photos,
shared laugh, cupcakes, kisses, and hugs -
for I never forget my graduation day

-S

Monday, June 11, 2012

Anak-Cucumu Kini

Sebut saja namanya Mbah Upas. Beliau juragan tanah di kampung ini. Tanah-tanah itu adalah hasil pengabdian beliau kepada Belanda. Mbah Upas menikah dua kali. Dari pernikahan pertamanya beliau memiliki empat anak dan dari pernikahan keduanya beliau memiliki lima anak. Anak-anak itu beranak pinak banyak sekali karena pas bikin anak enak sekali.


Mbah Upas sangat terpandang di kampungnya tidak lain dan tidak bukan adalah karena luas tanahnya. Beliau bukan orang yang dermawan. Beliau hanya berderma kepada si fakir yang disukainya. "Suka-suka, kan saya si Kaya," katanya.


Mbah Upas meninggal. Beliau dikebumikan di sepetak tanah pemakaman yang sudah dibelinya untuk  area pemakaman keluarga. Tanah Mbah Upas dibagi-bagi ke anak-anaknya. Satu generasi wafat dan generasi selanjutnya tidak ada yang sedisegani Mbah Upas di kampung itu. Keluarga Mbah Upas tetap dihormati dan lebih suka berderma dibandingkan mendiang pimpinan keluarga mereka.


Dua generasi berlalu. Muncul sosok pengganti Mbah Upas yang disegani dan dihormati oleh seluruh anggota keluarga besar dan menjadikan keturunan Mbah Upas merasakan kembali reputasi keluarganya di kampung itu. Si Sosok itu adalah seorang yang berpendidikan dan punya karir cukup sukses di kota; juga menjadi orang terkaya di keluarga. Sosok itu adalah cucu-mantu Mbah Upas; ia menikah dengan cucu perempuan Mbah Upas.


Habis sudah waktu cucu perempuan Mbah Upas di dunia. Si Sosok menduda. Tahun ketiga ia memutuskan kawin dengan janda. Enam anaknya tidak satu suara menanggapi bapaknya. Keluarga besar Mbah Upas tidak peduli, "sibuk urus dapur supaya tetap ngepul", katanya.


Keluarga inti Si Sosok yang semula jadi panutan keluarga besar keturunan Mbah Upas menjadi berkubu-kubu. Ada kubu nggak suka Ibu baru dan kubu bapak butuh teman turu*. Anak-anak si Sosok sempat saling bisu beberapa minggu.


Anak-anak si Sosok yang juga sudah punya anak-anak berulah. Tiga dari enam jadi simpanan, sampai labrak-labrakan tapi lebih heboh dari versi anak SMA. Yang satu percaya sama dukun-dukunan. Satu lagi kalau lagi marah pelariannya nongkrong di cafe sama anak balitanya. Cuma satu anaknya yang hidupnya adem-ayem saja; tinggal di rumah sakit jiwa sama teman-teman yang satu pikiran dengannya.


Di kampung rumah peninggalan Mbah Upas beridiri tidak ada lagi tradisi masak dodol saat hari raya. Tidak ada lagi jejeran mobil plat kota yang pulang saat hari raya. Mobil paling hanya satu-dua, nggak sampai empat-lima. Keluarga Mbah Upas sudah bubar pasar.




-S



*turu : tidur (bahasa jawa ngoko)

NOT my favorite charity

SHARING BED AND BLANKET
IS NOT MY
FAVORITE CHARITY.

-S

  Photo by Photos Hobby via Unsplash Old wounds are not worth revisiting. -S